Berbuka Pertama & Ramadhan ke-2
Kisah yang menurut saya MENARIK dan berharga.
Alhamdulilah, setelah seharian berpuasa akhirnya
berhasil menyelesaikannya hingga berbuka. Menu berbuka di rumah pada hari ini
tidaklah jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya yaitu nasi dan ikan sambal.
“Teh Manis Dingin” atau “ManDi” (istilah Keren), itulah yang menjadi pembeda
santap malam ini dengan malam lainnya.
Namun saya tidak bisa menikmati “teh manis dingin”
tersebut, tetapi saya lebih memilih teh manis hangat karena kondisi fisik yang
masih flu. Sebelum berbuka, semangat menggebu-gebu untuk menikmati berbuka,
namun ternyata setelah meneguk teh manis, seluruh rasa dahaga dan lapar saya
sudah cukup hilang.
Sejenak saya berfikir, sebenarnya apa “TUJUAN dari
berbuka” puasa ini? Apakah dengan makan sebanyak-banyaknya? Apakah menu makanan
yang bermacam jenis? Sejujurnya jika ditanya kapada saya pribadi, dengan
meminum segelas air “Itu sudah cukup” untuk membalaskan dahaga puasa dalam satu
hari ini. Bagi saya, air merupakan ciptaan Tuhan yang selalu membuat saya
terkagum-kagum.
Ya, mungkin karena kita “MANUSIA” tersusun lebih banyak didalam tubuh kita adalah “H2O” ini, sehingga kita sangat membutuhkan air ini. Hal ini bisa terlihat dari berbagai macam “Merk” industri air minum mineral ini yang sangat banyak, semakin jelas menunjukkan bahwa “air” merupakan konsumsi yang wajib bagi Manusia.
“Air Sumber Kehidupan”, istilah itu merupakan hal
yag sangat layak dan tepat. Pencipta dari air ini juga telah berfirman dalam Q.S Taahaa:
53, “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan
dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari
langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari
tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam”,
Q.s Al-Jaatsiyah : 45 “dan pada pergantian
malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya
dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”
Dan masih banyak lagi bukti-bukti Logis Al-Qur’an
tentang Air ini.
Setelah menyelesaikan berbuka dan magrib, saya juga
melanjutkan untuk melakasanakan shalat isya’ dan Qiyamul Lail di masjid.
Seperti yang kemarin, “MASJID Yang Kecil”. Dan ketika selesai Isya’, seorang
bapak jama’ah masjid bertanya kepada salah seorang pengurus remaja masjid
mengenai “apakah ada AIR MINUM”. Dan jawaban dari pengurus tersebut “tidak
ada”, hal itu membuat wajah jemaah itu sedit muram dan membuka kancing baju
kemeja atas karena kepanasan.
Ketika tarawih berlanjut, tenyata Pengurus Remaja
Masjid tersebut membeli satu kotak air mineral ukuran cup alias “Gope’an”. Dan
dalam waktu yang cukup cepat air tersebut sudah bergilir termasuk sampai kepada
bapak dari jema’ah itu, hingga akhirnya wajahnya tersenyum dan berseri-seri.
Bagaimana tidak senang, dalam suasana yang panas dan
pengap hingga meneteskan keringat “AIR” minum itu sepertinya lebih berharga
dari pada berlian.
Suasana panas ini mengingatkan saya kepada seorang
Nabi Ibrahim. Beliau yang dihukum oleh Namrud untuk dibakar hidup-hidup dalam
api yang panas akhihrnya diselamatkan
oleh Allah. Islam merupakan “Agama Rasional”, pertanyannya adalah, “apakah
mungkin seorang manusia bisa selamat dari api?”. Ya, itu merupakan Mukjizat dari
Allah bagi Ibrahim. Tapi kita sebagai umat Islam jika ditanyai tentang hal itu
oleh seseorang terutama yang tak “bersyahadat”,
jika “Mukjizat”, maka itu bukanlah jawaban yang tepat. Dalam hal ini,
pendekatan “Apologetik” atau Pendekatan “theologi” takkan menemukan kepuasan
bagi orang yang bertanya.
Namun ternyata hal ini sudah bisa dijelaskan secara
Ilmiah. Dra. Husna Sari M.Si, seorang dosen sekaligus Kepala Jurusan
Perbandingan Agama yang ketika itu sempat mengajarkan mata kuliah “Ilmu Alamiah
Dasar” pada semester 2, pembahasan Ibrahim ini telah kami bahas, bahwa Ibrahim
bisa selamat karena susunan “MANUSIA”
sebagian besar terdiri dari “air”, dan ketika itu seluruh energi dalam
tubuhnya terfokus kepada susunan air yang ada pada dirinya atau lebih tepat
“mendinginkan tubuh”. Hal inilah yang membuat sehingga beliau bias selamat dari
panasnya api ketika itu.
Dan saya juga pernah diajarkan ketika sedang di
Perkemahana Sibolangit bersama Keluarga Tarung Derajat MAN 1 Medan mencoba
“membakar” bertujuan “memasak” air menggunakan botol plastik dari air mineral
berukuran 1 liter. Awalnya saya mengira botol tersebut akan koyak bahkan
hancur, ternayata TIDAK. Botol itu tetap utuh dan air didalamnya menjadi panas
bahkan mendidih. Saya tidak tahu apakah hal ini ini bisa dijadikan “simulasi”
dan bahan “perbandingan” yang benar dan sejalan, namun satu hal yang pasti Air
merupakan hal yang LUAR BIASA bagi kita semua.
Ya, akhirnya saya pulang kerumah setelaha
melaksanakan 8 raka’at dan mengambil 1
cup air minum sebagai pelepas dahaga saya pada saat itu.
Sekian, semoga ada manfaatnya
Dan Selamat menjalankan Ibadah-Ibadah.
No comments:
Post a Comment